3

Butuh Info Keris Hub. rayyagun@gmail.com

Rabu, 29 Februari 2012

filosofi keris

Banyak orang berpendapat bahwa keris yang terbaik untuk dimiliki adalah keris peninggalan orang tua atau sering disebut keris pusaka keluarga, yang diwariskan turun-temurun kepada anak-cucu keturunan. Walaupun banyak yang berpendapat demikian, tetapi menurut hemat penulis hal itu tidaklah selalu benar.

Ada pemilik keris yang memperoleh / menyimpan keris peninggalan orang tua, tetapi justru banyak mengalami nasib buruk, misalnya anggota keluarganya sering sakit-sakitan, rejeki tidak lancar, sering dirundung nasib sial, kerapkali mengalami musibah / kecelakaan, sering bermimpi buruk, kerisnya kerap menimbulkan bunyi-bunyian aneh hingga mengganggu dan membuat takut seisi rumah, atau hal-hal buruk lainnya. 

Mengapa bisa terjadi yang demikian itu?


Sebagai benda pribadi yang sangat berharga, keris dianggap sebagai benda yang pantas diwariskan kepada anak-cucu, menjadi benda pusaka yang diturunkan dari generasi ke generasi. Para generasi terdahulu umumnya memahami ajaran kejawen, termasuk ilmu pengetahuan mengenai seluk beluk perkerisan, pemeliharaannya dan kecocokkan karakter keris dengan  pemiliknya.

Seiring perkembangan zaman, nilai-nilai kejawen dan perkerisan pun mulai ditinggalkan masyarakat, sehingga tak banyak lagi masyarakat yang tahu dan memahami masalah perkerisan dengan baik. Akibatnya, mulai muncullah masalah antara keris dan pemiliknya.
Efek buruk dari sebilah keris baru muncul ketika keris tersebut tidak cocok dengan pemiliknya.





Masing-masing keris mempunyai tuah / kegaiban sendiri-sendiri, seperti untuk perlindungan, kesaktian, kekuasaan, rejeki, dsb. Tuah keris yang paling dasar adalah untuk perlindungan bagi si pemilik dari serangan gaib / kejahatan. Jadi, selain tuah untuk kesaktian, kekuasaan atau rejeki, keris juga memberikan tuah sebagai perlindungan bagi si pemilik.

Namun tuah-tuah itu tidak begitu saja didapatkan oleh si pemilik keris, walaupun kerisnya itu adalah peninggalan orang tua. Harus ada ritual / proses untuk menyatukan gaib keris dengan pemiliknya dahulu sampai si keris benar-benar mau "mengikut" si pemilik keris. Setelah itu, barulah kemudian si keris mau memberikan tuahnya kepadanya. Bila tidak demikian, maka keris itu tidak akan memberikan tuah apapun kepadanya. Malah bisa jadi justru nasib jelek yang akan dialami oleh orang itu dan keluarganya karena terbebani oleh keberadaan keris itu.
Biasanya, bila si keris mau  'ikut'  dengan seseorang (pemilik keris), keris itu akan memberi mimpi kepada orang itu. Dalam mimpi itu, gaib keris akan menampakkan diri sebagai seseorang yang bersahabat dan akan menunjukkan, dalam bentuk penggambaran / perlambang, tentang manfaat apa yang akan diberikan oleh si keris kepadanya.

Begitu juga sebaliknya, bila si keris tidak mau ikut, maka ia akan memberikan mimpi buruk kepadanya dan dalam mimpi itu si keris menggambarkan diri sebagai sesuatu yang menakutkan dan menjadi ancaman bagi si pemilik. Dengan demikian si pemilik keris harus bisa menerjemahkan arti dari mimpinya itu sehubungan kecocokkannya dengan si keris.
Sebuah keris akan berkomunikasi dengan pemiliknya dengan cara memberi mimpi kepada si pemilik atau anggota keluarganya. Misalnya tentang dia mau ikut atau tidak, sesaji apa yang dia minta, sampai mengenai kejadian-kejadian penting yang akan dialami oleh si pemilik atau anggota keluarganya. Dengan demikian, si pemilik keris dan keluarganya harus cepat tanggap dan tidak menganggap mimpinya adalah mimpi biasa, karena mereka tidak sendiri lagi. Ada si keris yang senantiasa memperhatikan kehidupan mereka.

Bila si pemilik keris tidak pernah mendapatkan mimpi apa-apa, kemungkinan besar si keris tidak mau ikut dengannya dan tidak peduli kepadanya. Namun walaupun si pemilik tidak mendapatkan tanda apapun dari si keris, bukan berarti keberadaan keris itu aman-aman saja baginya. Karena bila ada perbuatan si pemilik yang tidak berkenan bagi si keris, bisa jadi si pemilik akan mengalami nasib buruk.

Asal-usul keris kita, selain pemberian dari orang tua, bisa juga pemberian dari seorang yang lain atau mungkin 'membeli' dari pedagang keris. Kita perlu memperhatikan bagaimana si pemilik keris sebelum kita itu memperlakukan kerisnya.
Apakah kerisnya rajin diberi sesaji ? 
Sesaji apa yang biasanya dia berikan ? 
Apakah rajin dijamas ?  
Apakah kerisnya menimbulkan gangguan atau keanehan ?

Kebiasaan perlakuan si pemilik keris terdahulu terhadap kerisnya dapat juga mempengaruhi kecocokkan / ketidak-cocokkan keris tersebut dengan kita.

Sebagai contoh, misalnya kita memelihara seekor kucing yang dahulunya adalah milik seorang pedagang ikan di pasar. Dahulunya kucing itu dibiarkan liar (bukan kucing rumahan) dan biasa diberi makan daging ikan mentah.  Karena tidak terbiasa, mungkin kucing itu akan merasa 'terpaksa' makan, bila kita beri makan nasi dan ikan goreng atau ikan asin, atau makanan yang lain. Padahal menurut kita makanan itu lebih baik. Lebih pantas. Lebih higienis. Tetapi si kucing merasa tidak cocok karena tidak terbiasa dengan makanan itu.

Begitu juga dengan keris. Mungkin kita akan merasa berat bila harus memberinya bakaran menyan, karena baunya menyengat dan identik dengan kesan klenik di mata orang lain. Padahal dahulunya keris itu biasa dibakarkan menyan. Atau mungkin keris itu sering diberi sesaji kembang setiap malam jum'at kliwon dan dijamas setiap tahun. Itu juga mungkin akan memberatkan kita karena kita juga tidak serajin orang dahulu dalam memberi sesaji atau merawat keris. Itu terjadi karena mungkin kedekatan hati kita dengan si keris tidak akan sama dengan si pemilik terdahulu.

Gaib keris dapat membaca jalan pikiran dan kepribadian kita. Kalau dia tidak nyaman dengan kepribadian kita, mungkin dia akan merasa  'terpaksa'  bila berada bersama kita. Tetapi bisa juga keris itu mau mengikut kita, bila dipandangnya kepribadian kita lebih baik daripada si pemilik terdahulu.
Jadi, memiliki / menyimpan keris peninggalan orang tua tidaklah selalu baik untuk kita. Mendapatkan keris dari orang lain atau  'membeli'  dari pedagang juga belum tentu tidak baik. Yang terpenting adalah keris yang kita miliki adalah yang sesuai dan sejalan dengan kita dan bermanfaat dalam kehidupan kita. Ini adalah langkah awal kita untuk menilai baik / tidaknya sebuah keris bagi kita.

Hal penting yang harus diperhatikan adalah bila anda mendapatkan tanda bahwa si keris tidak mau ikut dengan anda, maka kami menganjurkan supaya anda merelakan keris itu untuk dipindahtangankan kepada orang lain yang kira-kira si keris mau ikut dengannya. Jangan memaksakan diri untuk menyimpan keris itu. Hal-hal yang tidak sejalan dengan anda sebaiknya jangan anda paksakan untuk bersama anda, karena sudah pasti tuahnya tidak akan anda dapatkan dan nantinya anda dan keluarga akan menjadi terbebani dengan keberadaannya.

Agar keberadaan pusaka yang kita miliki dapat mengantar kita pada kehidupan yang lebih baik seperti yang kita inginkan, maka hal penting yang harus kita lakukan adalah :
1. Mencocokkan kepribadian
pusaka kita dengan kepribadian kita.
2.
Mencocokkan tuah pusaka kita dengan jalan kehidupan / penghidupan kita.
3. Mencocokkan tuntutan pemeliharaan keris dengan kemampuan dan ketelatenan kita.

Dengan upaya demikian, keris-keris yang kita miliki akan mampu menjadi keris pembawa keberuntungan, bukan sebaliknya, keris pembawa kesialan.

(baca juga :  Menayuh Keris).

1 komentar: